Samplingtechnique using the total population of 30 respondents. The results showed that the education level of clients with diabetes mellitus was mostly elementary school (SD - SMP) as many as 14 people (46,7%), and the anxiety level of clients with diabetes mellitus mostly on the anxiety was 13 people (43,3%). Education is one factor that
Halini dapat dilihat dengan meningkatnya jumlah klien dengan Diabetes Mellitus yang datang ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Menurut catatan di ruang perawatan Interna Atas Perjan RS DR. Kesimpulan dan Saran. Kesimpulan : Merupakan rumusan dari seluruh karya tulis ini. Saran : Merupakan tanggapan dan hal-hal yang
BAB5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tentang studi penggunaan oral antidiabetik (OAD) pada pasien diabetes melitus tipe 2 periode Juli- Desember 2017 di Poli Diabet Unit Rawat jalan RSU Haji Surabya dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : a.
Vay Tiền Nhanh. Universitas Sumatera Utara BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Adapun kesimpulan penelitian ini adalah 1. Nilai MPV lebih tinggi pada pasien dengan nilai HBA1c ≥6 atau DM tidak terkontrol dengan nilai HBA1c pasien 6 atauDM terkontrol ± fL. 2. Nilai MPV lebih tinggi pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 yang memiliki komplikasi lebih dari 2,dengan nilai MPV fL. 3. Pada penelitian ini, nilai MPV pada pasien yang telah menderita DM tipe 2 kurang dari tiga tahun fL, yang menderita selama tiga sampai lima tahun, nilai MPV fL, sedangkan yang menderita DM Tipe 2 lebih dari lima tahun memiliki nilai MPV fL. 4. Nilai MPV pada pasien Diabetes Melitus tipe 2 dengan adanya ulkus lebih tinggi dari pasien dengan tanpa ulkus fL. 5. Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUP. Haji Adam Malik Medan, mayoritas berjenis kelamin perempuan berusia 31-60 tahun bertempat tinggal di Medan berpendidikan tamat SLTA 6. Komplikasi Diabetes Melitus Tipe 2 yang paling banyak terjadi di RSUP. Haji Adam Malik Tahun 2014 adalah neuropati Saran Berdasarkan hasil penelitian yang didapat pada penelitian ini, maka peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut 1. Rekam medis sebaiknya ditulis dengan lengkap dan melampirkan hasil pelaporan pemeriksaan dan follow up, serta informasi-informasi penting lainnya sehingga memudahkan dalam pengolahan data. 2. Karena penelitian ini adalah penelitian deskriptif, diharapkan adanya penelitian lebih lanjut mengenai nilai MPV pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dengan tingkatan yang lebih tinggi, yaitu penelitian analitik. Universitas Sumatera Utara BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Diabetes Melitus Definisi Menurut America DiabetesAssociation ADA tahun 2012, Diabetes Melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau tersebut berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi, dan kegagalan berbagai organ terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah. Diagnosis DM menurut ADA jika hasil pemeriksaan gula darah - Kadar gula darah sewaktu lebih atau sama dengan 200 mgdl. - Kadar gula puasa lebih atau sama dengan 126 mgdl. - Kadar gula darah lebih atau sama dengan 200 mgdl pada 2 jam setelah beban glukosa pada tes toleransi glukosa ADA,2012. Klasifikasi Klasifikasi Diabetes Mellitus berdasarkan PERKENI 2011 terbagi atas PERKENI,2011 a. Diabetes Melitus tipe-1 artinya bahwa terjadi defisiensi insulin absolute akibat destruksi sel beta yang penyebabnya dapat autoimun maupun idiopatik. b. Diabetes Melitus tipe-2 artinya defisiensi insulin relatif yang terjadi akibat defek sekresi insulin lebih dominan daripada resistensi insulin atau sebaliknya, yakni resistensi insulin lebih dominan daripada defek sekresi insulinnya. c. Diabetes Melitus tipe lain d. Diabetes Melitus kehamilan gestasional, terjadi ketika tubuh tidak dapat membuat dan menggunakan seluruh insulin selama kehamilan. Universitas Sumatera Utara Faktor Risiko Menurut Suyono 2007, beberapa faktor DM, antara lain a. Faktor keturunan b. Faktor kegemukan IMT 25 kgm². - Perubahan gaya hidup dari tradisional ke gaya hidup barat. - Konsumsi makanan berlebihan - Kurang pergerakan c. Faktor demografi - Jumlah penduduk meningkat - Urbanisasi - Penduduk berumur diatas 40 tahun meningkat d. Kurang gizi Patogenesis Terjadinya Komplikasi Vaskular Kelebihan gula darah memasuki sel glomerulus melalui fasilitas glucose transporter GLUT, mengakibatkan peningkatan beberapa mekanisme seperti jalur poliol, jalur heksosamin, jalur Protein Kinase C PKC, dan penumpukan zat yang disebut sebagai advanced glcation endproducts AGEs. Suwitra, 2006 a. Peningkatan jalur poliol Banyak sel memiliki aldosa reduktase, yaitu, suatu enzim yang mengubah aldoheksosa, contohnya glukosa, menjadi alkohol jalur menyebabkan substrat untuk enzim ini bertambah. Kelebihan sorbitol yang diproduksi dari reaksi ini tidak dapat keluar dari sel dan dapat menyebabkan stress osmotik Suwitra,2006. b. Peningkatan jalur heksosamin Diduga berperan menyebabkan resistensi insulin karena terjadi pengalihan glukosa melalui jalur diduga berperan dalam penyakit mikrovaskular karena jalur ini menghasilkan substrat yang dapat menambah kerusakan vaskular Suwitra,2006. c. Pengaktifan jalur Protein Kinase C PKC Universitas Sumatera Utara Terjadi pengaktifan PKC yang tidak sesuai karena adanya peningkatan diacylglycerol DAG yang selanjutnya mengaktifkan beberapa isoform ini dapat mempengaruhi aliran darah dan mengubah permeabilitas endotel Suwitra, 2006. d. Pembentukan AGEs Pembuluh darah pengidap diabetes memperlihatkan akumulasi protein- protein AGE dan hal ini dapat menyebabkan pelepasan sitokin jika berikatan dengan makrofag dimana hal ini dapat mempengaruhi proliferasi dan fungsi vaskular Suwitra, 2006. Patofisiologi Pada DM tipe 2 terjadi dua defek fisiologi, yaitu kegagalan sekresi insulin dan resistensi kerjanya pada jaringan sasaran. Powers, 2010 • Kegagalan sekresi insulin, yaitu berhubungan dengan sensifitasnya. Pada DM tipe 2, mulanya sekresi insulin meningkat sebagai respon terhadap resistensi insulin untuk mempertahankan glukosa normal. Selain itu, diperkirakan bahwa ada kelainan pada gen yang mengakibatkan kegagalan sel beta pankreas untuk mensekresi insulin. • Resistensi insulin, ialah penurunan kemampuan insulin untuk bekerja secara efektif pada jaringan sasaran khususnya otot, hati, lemak. Hal ini merupakan kombinasi dari genetik dan obesitas. Resistensi insulin adalah relatif, akan tetapi karena jumlah insulin yang beredar lebih banyak dari biasanya, akhirnya dapat menormalkan kadar glukosa plasma. Namun lama-kelamaan, produksi insulin semakin berkurang dan ditambah adanya resistensi insulin akhirnya mengakibatkan kegagalan penggunaan glukosa oleh jaringanyang bergantung insulin serta akan terjadi peningkatan produksi produksi glukosa oleh hati. Keadaan ini mengakibatkan hiperglikemia. Mekanisme yang mengakibatkan terjadinya resistensi insulin belum dapat dijelaskan. Universitas Sumatera Utara Diagnosa Menurut PERKENI 2011, berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes. Kecurigaan adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik DM seperti di bawah ini • Keluhan klasik DM berupa poliuria, polidipsi, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. • Keluhan lain dapat berupa lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulvae pada wanita. Diagnosa DM dapat ditegakkan melalui tiga cara • Jika keluhan klasik ditemukan, maka pemeriksaan glukosa plasma sewaktu 200 mgdL sudah cukup menegakkan diagnosis DM. • Pemeriksaan glukosa plasma puasa ≥ 126 mgdL dengan adanya keluhan klasik. • Tes toleransi glukosa oral TTGO. Meskipun TTGO dengan beban 75 g glukosa lebih sensitive dan spesifik dibanding dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa, namun pemeriksaan ini memiliki keterbatasan tersendiri. TTGO sulit untuk dilakukan berulang-ulang dan dalam praktek sangat jarang dilakukan karena membutuhkan persiapan khusus. Komplikasi Menurut Price dan Wilson 2002, komplikasi – komplikasi diabetes melitus dapat dibagi menjadi dua kategori mayor 1 komplikasi metabolik akut, dan 2 komplikasi-komplikasi vaskular jangka panjang. 1. Komplikasi Metabolik Akut Komplikasi metabolik diabetes disebabkan oleh perubahan yang relatif akut dari konsentrasi glukosa plasma. Apabila kadar insulin sangat menurun, pasien mengalami hiperglikemia dan glukosuria berat, penurunan lipogenesis, peningkatan lipolisis dan peningkatan oksidasi asam lemak bebas disertai pembentukan badan keton. Peningkatan keton dalam plasma mengakibatkan produksi keton meningkatkan beban ion hidrogen dan asidosis dan Universitas Sumatera Utara ketonuria yang jelas juga dapat mengakibatkan dieresis osmotik dengan hasil akhir dehidrasi dan kehilangan dapat menjadi hipotensi dan mengalami syok. Akhirnya, akibat penurunan penggunaan oksigen otak, pasien akan mengalami koma dan meninggal. 2. Komplikasi Kronik Komplikasi vaskular jangka panjang dari diabetes melibatkan pembuluh- pembuluh kecil mikroangiopati dan pembuluh-pembuluh sedang dan besar merupakan lesi spesifik diabetes yang menyerang kapiler dan arteriola retina retinopati diabetik, glomerulus ginjal nefropati diabetik dan saraf-saraf perifer neuropati diabetik, dan otot-otot serta diabetik mempunyai gambaran histopatologis berupa dari gangguan biokimia yang disebabkan oleh insufisiensi insulin dapat menjadi penyebab jenis penyakit vaskular ini. Gangguan-gangguan ini berupa 1 penimbunan sorbitol dalam intima vaskular, 2 hiperlipoproteinemia, dan 3 kelainan pembekuan darah. Pada akhirnya, makroangiopati diabetik ini akan mengakibatkan penyumbatan vaskular. Trombosit
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. BAB IPENDAHULUAN LATAR BELAKANG Diabetes mellitus merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai dengan kadar glukosa darah melibihi batas normal. Apabila penyakit ini dibiarkan tak terkendali maka akan menimbulkan komplikasi-komplikasi yang dapat berakibat fatal, termasuk penyakit jantung, ginjal, kebutaan, dan mudah terkena ateroskelosis. Gejala khas diabetes mellitus berupa pliuria, polidipsia, lemas, dan berat badan turun meskipun nafsu makan meningkat, hiperglekimia, dan glukosuria. Gejala lain yang mungkin dikemukakan pasien adalah kesemutan, gatal, mata kabur, dan impoten pada pasien pria serta pruritus vulvae pada pasien wanita, biasanya diabetes muncul pada usia diatas 40 tahun dan anak-anak yang masing-masing berlainan sifatnya. Umumnya, diabetes mellitus disebabkan oleh rusaknya sebagian kecil/sebagian besar sel-sel beta dari pulau-pulau langerhans pada pankreas yang berfungsi menghasilkan insulin, sehingga terjadi kekurangan insulin. Disamping itu, DM diabetes melitus juga dapat terjadi karena gangguan terhadap fungsi insulin dalam memasukkan glukosa kedalam sel. Jika tidak ditangani secara cepat dan tepat, dalam jangka panjang diabetes dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Jika tidak waspada, DM bisa mengakibatkan gangguan pembuluh darah otak stroke, pembuluh darah mata gangguan penglihatan, pembuluh darah jantung penyakit jantung koroner, pembuluh darah ginjal gagal ginjal, pembuuh darah kaki luka yang sukar sembuh/gangren.Pengobatan DM secara langsung terhadap kerusakan pulau-pulau langerhans di pankreas belum ada langkah utama pengobatan dapat dilakukan dengan cara melakukan diet, yakni mengurangi kalori dan meningkatkan konsumsi vitamin, melakukan olah raga secara teratur, mengonsumsi obat-obatan hipoglekimia oral, melakukan terapi insulin. Ternyata sampai sekarang ini masih saja penderita DM bertambah banyak. Hal tersebut disebabkan karena masih banyak masyarakat khususnya penderita DM yang tidak tanggap terhadap penyakitnya. Hal itu mungkin disebabakan karena ketidaktahuannya akan penyakit DM tersebut, tidak ada biaya berobat atau ketidakpedulian terhadap DM itu sendiri. Padahal sudah jelas betapa penyakit DM itu dapat menimbulkan komplikasi yang dapat berakibat fatal. Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas penulis tertarik menulis karya tulis berjudul Diabetes Melitus. Permasalahan Berdasarkan latar belakang di atas, penulis akan membahas apakah yang dimaksud dengan diabetes Tujuan Penulis Penulisan karya tulis ini bertujuan untuk menjelaskan tentang penyakit diabetes mellitus dan permasalahannya. Kegunaan Penulis Karya tulis ini diharapakan dapat beguna bagi sekolah dan masyarakat, selain itu dapat menambah nilai bahasa Indonesia. Metode Penulis Metode penulisan karya ini menggunakan metode pustaka. Sistematika Penulis Karya tulis ini terdiri dari tiga bab. Bab pertama pendahuluan, berisi latar belakang masalah, sistematika, tujuan penulisan, kegunaan penulisan, metode penulisan, sistematika penulisan. Bab kedua, pembahasan. Bab 3 ketiga, berisi penutup serta kesimpulan dan saran. BAB Pengertian diabetes melitus Penyakit diabetes melitus sering disebut juga penyakit kencing manis. Penyakait ini menyebabkan tubuh penderitanya tidak bisa mengendalikan tingkat gula glukosa dalam darahnya. Penderita mengalami gangguan metabolism distribusi gula di dalam tubuh sehingga pankreas tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup atau tidak mampu menggunakan insulin secara efektif. Akibatnya, terjadi kelebihan gula di dalam darah sehingga menjadi racun bagi tubuh. Sebagian glukosa yang tertahan di dalam darah tersebut melimpah ke sistem urine sehingga air kencing penderita diabetes mellitus sering dikerubuti semut karena berasa manis. Penyebab diabetes melitusMengelola penyakit ini sebenarnya mudah asal penderita bisa mendisiplinkan diri, mengikuti saran dokter, melakukan olah raga secara teratur, dan tidak mudah putus asa. Seseorang dikatakan menderita diabetes jika kadar gula darahnya diatas 120 mg/dl dalam kondisi berpuasa dan diatas 200mg/dl setelah dua jam makan. Tanda lain yang lebih nyata adalah bila dalam air senirnya banyak mengandung gula. Adapun penyebab munculnya penyakit DM antara lain, rusaknya sebagian kecil/sebagian besar sel-sel beta dari pulau-pulau langerhans pada pankreas yang berfungsi menghasilkan insulin, sehingga terjadi kekurangan insulin, kedua orang tuanya menderita diabetes, pernah melahirkan beyi dengan berat badan lebih dari 4 kg, pada waktu pemeriksaan kesehatan ditemukan kadar gula darah 140-200 mg/dl. Gejala diabetes melitus Gejala khas diabetes mellitus berupa poliuria, polidipsia, lemas dan lapar yang terus-menerus, hiperglekimia, dan glukosuria. Dalam fase ini umunya berat badan penderita terus naik karena dia sering makan dan minum. Karena masih didukung dengan makanan maka jumlah insulin dalam tubuhnya masih mencukupi. Jika gejala sudah tampak tetapi panyakit belum juga terdeteksi, akan muncul gejala lain berupa kekuranganya insulin. Pada tahap-tahap ini nafsu makan penderita mulai berkurang, kadang-kadang disertai dengan rasa mual. Namun, penderita tetap sering haus, banyak buang air kecil, serta cepat merasa lelah dan lemas. Akibatnya, berat badan pun akan turun drastic kurang lebih 5-10 kg dalam waktu 2-4 minggu. Akibat diabetes melitus Komplikasi akibat penyakit diabetes mellitus bisa muncul secara akut maupun kronis, yaitu beberapa bulan atau beberapa tahun setelah mengidap diabetes. Komplikasi kronis bisa terjadi pada beberapa bagian tubuh sebagai berikut. Pembuluh darah Komplikasi yang paling berbahaya pada penderita diabetes adalah komplikasi pada pembuluh darah karena akan terjadi penyempitan pebuluh darah angiopati diabetic. Angiopati diabetic yang terjadi pada pembuluh darah kapiler disebut mikroangipati diabetic. Secara medik, penderita diabetes melitus ditentukan olehkualitas pembuluh darahnya yaitu, lumpuh atau lemah separuh akibat kerusakan pembuluh darah, apabila lumpuh disebelah kanan bisa disertai dengan gangguan bicara bahkan, bisu Mata jika kadar glukosa dalam darah mendadak tinggi, lensa mata menjadi cembung dan penderita mengeluh pandangannya menjadi kabur. Biasanya, penderita akan sering mengganti lensa kaca matanya. Penyakit ini menyebabkan lensa mata menjadi keruh tampak putih dan membuat pandangan kabur katarak. Jika katarak sudah parah harus segera dioperasi. Jantung Penderita diabetes mudah terserang penyakit jantung koroner, yatu penyakit jantung yang disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah koroner. Jika ini terjadi, otot jantung akan kekurangan oksigen dan makanan sehibgga akan menjadi lemah atau sebagian sel jantung mati. Keadaan ini disebut infark jantung myocoard infark. Organ reproduksi Selama urat syaraf yang memelihara alat seksual yang tidak terganggu, bias any kemampuan seksual penderita tetap normal . namun, jika kerusakan syarafnya sudah berat dan permanen, penderita akan mengalami impotensi. Impoten ini pada umumnya tidak boleh diobati dengan suntikan hormone seks pria testosterone karena biasanya kadar testosterone penderita diabetes masih normal. Impotensi pada penderita diabetes dapt dibedakan menjadi dua jenis, yaitu impotensi psikogenik dan impotensi neuroganik. Impotensi neurogenik dipengaruhi oleh gangguan syaraf sedangkan impoten psikogenik lebih cenderung akibat gangguan Usaha penganggulangan diabetes melitusMenurut catatan WHO, diperkirakan lebih dari 50% pengidap diabetes tipe II tidak terdiagnosis. Mereka umumnya baru tahu menderita diabetes pada saat berobat untuk penyakit lain. Akibatnya, terjadi komplikasi diabetes serius yang ditandai oleh hilangnya kesadaran, tekanan darh tinggi, terjadi gangguan jantung, gangguan ketajaman penglihatan sampai buta, dan kerusakan jaringan ganggren sehingga harus diamputasi agar tidak mengejar ke jaringan lain. Diabetes dapat dikontrol dengan mengubah beberapa kebiasaan hidup sehingga kadar gula dalam darah akan kembali seperti biasa atau normal . perubahan gaya hidup tersebut diantaranya makansecara teratur dan mengikuti pola makan yang sehat, menjaga berat badan, tetap mengkonsumsi resep obat dari dokter, olahraga secara IIIPENUTUP Kesimpulan Berdasarkan pembahasan diatas penulis menyimpulkan bahwa diabetes melitus DM adalah penyakit menahun yang ditandai dengan kadar glukosa darah melibihi batas normal. Apabila penyakit ini dibiarkan tak terkendali maka akan menimbulkan komplikasi-komplikasi yang dapat berakibat fatal, termasuk penyakit jantung, ginjal, kebutaan, dan mudah terkena ateroskelosis. Penyakit ini dpat dikontrol dengan cara pola hidup dan olah raga yang teratur. Saran Adapun saran penulis sebagai berikut Jangan menganggap spele penyakit diabetes Hendaklah olah raga secara teratur dan mengikuti pola makan yang sehat. Sebaiknya dilakukan pengecekan gula darah sebulan sekali. Jika terdapat gejala-gejala diabetes hendaklah periksa ke dokter. Lihat Pendidikan Selengkapnya
pendidikan keperawatan Dalam pendidikan keperawatan perlu menekankan pemahaman kepada peserta didik bahwa pada pasien DM baik laki-laki dan perempuan memiliki simptom penyakit dan gangguan-gangguan lain yang dapat menghambat proses tidur sehingga kualitas tidur menjadi buruk. Sehingga peserta didik diharapkan dapat mengantisipasi dan membantu mengatasi masalah tersebut nantinya di rumah sakit. praktik keperawatan Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu perawat dalam mengontrol, memfasilitasi dan meningkatkan kualitas tidur pada pasien DM baik laki-laki maupun perempuan. Serta membantu mengidentifikasi dan mengatasi gangguan tidur yang dialami kebanyakan pasien DM. Bagi penelitian selanjutnya Penelitian ini dapat digunakan sebagai data awal sekaligus motivasi untuk mengembangkan penelitian yang lebih lanjut mengenai kualitas tidur pada pasien DM, dengan mengambil sampel yang homogen dan dapat lebih mengkaji kualitas tidur yang dialami responden dengan mengobservasi tanda-tanda gangguan tidur yang dialami responden, dapat juga dilakukan penelitian tentang faktor faktor yang menyebabkan gangguan tidur pada pasien DM sehingga penelitian ini dapat terus disempurnakan. DAFTAR PUSTAKA Agustin. 2012. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas tidur pada pekerja shift di PT Krakatau Tirta Industri Cilegon. Skripsi. Diperoleh tanggal 30 Oktober 2014, dari American Diabetes Association ADA. 2004. Body mass index and waist circumference as predictors of the incidence of type 2 Diabetes among angiographied coronary patients. DiabetesPro Profesionals Resorces Online. Diperoleh tanggal 16 Oktober 2014, dari Anies. 2006. Waspada ancaman penyakit tidak menular - solusi pencegahan dari aspek perilaku dan lingkungan. Jakarta Elex Media Komputindo. Arifin, 2011. Analisis hubungan kualitas tidur dengan kadar glukosa darah pasien diabtes mellitus tipe 2 di rumah sakit umum propinsi nusa tenggara barat. Tesis. Depok Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta Salemba Medika. Awad, Langi, Pandelaki. 2011. Gambaran faktor resiko pasien diabetes mellitus tipe II di poliklinik endokrin bagian/SMF FK-Unsrat RSU Prof. Dr. kandou Manado Periode Mei 2011 - Oktober 2011. Jurnal e- Biomedik eBM, Volume 1, Nomor 1, Maret 2013, 49. Diperoleh tanggal 16 Oktober 2014, dari Baradero, Dayrit, Siswadi. 2009. Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan Keperawatan. Jakarta EGC. Barus, 2012. Perbandingan kualitas tidur mahasiswa yang mengikuti UKM dan tidak mengikuti UKM pada mahasiswa reguler FIK UI. Skripsi. Depok Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Butar-butar, E. M. 2007. Perbedaan kualitas tidur klien lansia dengan kebiasaan minum tuak dan tidak minum tuak di desa Lumban Loju kecamatan Lumban Julu. Skripsi. Medan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Cartier-Kastler, E, & Tubaro, A. 2005. The measurement of nocturia and its impact on quality of sleep and quality of life in LUTS/BPH. European urology Supplements 5 2006 3-11. Castro, 2014. Does Alcohol and Tobacco Use Increase The Risk Of Chaput, Despres, & Bouchard. 2007. Association of sleep duration with type 2 diabetes and impaired glucose tolerance. Diabetologia 2007 502298- 2304. Cunha, & Hass, 2008. Sleep quality in type 2 diabetics. Revista Latino-Americana de Enfermagem, Danim, S. 2003. Riset Keperawatan Sejarah dan Metodologi. Jakarta EGC Depkes RI. 2009. Tahun 2030 Prevalensi Diabetes Melitus di Indonesia Mencapai 21,3 Juta Orang. Diperoleh tanggal 20 Oktober 2014, dari Dewi, M. P. 2011. Kualitas Tidur dan Faktor-faktor Gangguan Tidur Pada Penderita Diabetes Mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Johor. Skripsi. Medan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Ghifaajah. 2012. Pengaruh pemberian aktivitas ROM Rage of Motion terhadap perubahan kualitas tidur pasien diabetes mellitus di ruang bedah pria RSUD Cut Mutia?. Diperoleh tanggal 16 Oktober 2014, dari Hidayat, A. A. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep Dan Proses Keperawatan. Jakarta Salemba Medika. International Diabetes Federation. 2013. Diperoleh tanggal 10 November 2014, dari Inzucchi, S. 2005. Diabetes Mellitus Manual a primary care companion to Ellenberg and Rifkin's 6th ed. California McGraw Hill Professional. Irawan, D. 2010. Prevalensi dan faktor risiko kejadian diabetes melitus tipe 2 di daerah urban indonesia analisa sekunder riskerdas 2007. Thesis. Jakarta Universitas Indonesia Ismi, R. 2013. Diabetes Mellitus. Diperoleh tanggal 31 Oktober 2014, dari Japardi, I. 2002. Gangguan tidur. Fakultas Kedokteran Bagian Bedah Universitas Sumatera Utara. Diperoleh tanggal 22 Oktober 2014, dari Jelantik, dan Haryati, E. 2014. Hubungan faktor risiko umur, jenis kelamin, kegemukan dan hipertensi dengan kejadian diabetes mellitus tipe II di wilayah kerja puskesmas mataram. Media bina ilmiah39 volume 8, no. 1. Mataram Dinkes Prop. NTB. Diperoleh tanggal 22 Oktober 2014, dari Karota-Bukit. 2003. Sleep quality and factors interfering with sleep among hospitalized elderly in medical units, Medan Indonesia. Master of nursing science thesis in adult nursing. Tidak dipublikasikan. Thailand Prince of Songkla University. Khasanah dan Hidayati. 2012. Kualitas tidur lansia balai rehabilitasi sosial “MANDIRI” semarang. JURNAL NURSING STUDIES, Volume 1, Nomor 1 Tahun 2012, Halaman 189 – 196. Diperoleh tanggal 29 Oktober 2014, dari Knutson, Mander, dan Cauter, 2006. Role of sleep duration and sleep quality in the risk of severity of type 2 diabetes mellitus. JAMA Internal Medicine Vol. 166 No. 16. Kozier, B. E, Berman, A, Synder, S. J. 2004. Fundamental Of Nursing Concepts, Process, And Practice. New Jersey Prentice Hall. Lee-Chiong. 2009. Sleep Medicine Essentials. New Jersey John Wiley & Sons. Listiyanto, A. 2014. Pengaruh hipnoterapi terhadap kualitas tidur dan kadar gula darah diabetes melitus di wilayah kerja puskesmas purwokerto selatan. Skripsi. Purwokerto Fakultas Keperawatan dan Ilmu-ilmu Kesehatan. Mendrofa, I. 2012. Karakteristik penderita DM dan pengetahuan penderita DM tentang kontrol kadar gula darah di RSUD Gunungsitoli periode Juni – September 2011. Skripsi. Medan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Mihardja, L. 2009. Faktoryang Berhubungan dengan Pengendalian Gula Darah pada Penderita Diabetes Melitus di Perkotaan Indonesia. Diperoleh tanggal 16 Oktober 2014, dari Indonesia, Jakarta. Mallon, L, Broman, JE., Hetta, J. 2005. High incidence of diabetes in men with sleep complaints or short sleep duration. Diabetes Care, Volume 28 No. II 2762-2767. National Sleep Foundation. 2014. Sleep polls and data. Diperoleh tanggal 21 Oktober 2014, dari Nedeltcheva, A. V., Imperial, J. G., Penev, P. D. 2012. Effecst of sleep restriction on glucose control and insulin secretion during diet-induced weight loss. Obesity, volume 20 number 7. Nilsson dkk. 2004. Incidence of diabetes in middle aged men is related to sleep disturbance. Diabetes Care, volume 27, number 10 Nisrina. 2008. Efektivitas mengkonsumsi telur terhadap kualitas tidur lansia di UPTD Abdi Dharma Asih Binjai. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Medan Fakultas Keperawatan USU. Noerhayati, T. 2014. Hubungan antara sikap dan perilaku keluarga dengan kualitas hidup penderita diabetes mellitus tipe 2 di wilayah kerja puskesmas I Kembaran. Skripsi. Purwokerto Universitas Jenderal Sudirman. Notoatmodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta Rineka Cipta. Nursalam. 2009. Konsepdan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Profesional, Edisi Kedua. Jakarta Salemba Medika. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam. 2014. Pengenalan penyakit diabetes mellitus & penanganannya dewasa ini. Diperoleh tanggal 20 Oktober 2014, dari Perkumpulan Endrokinologi Indonesia. 2011. Konsensus pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus. Diperoleh tanggal 20 Oktober 2014, dari Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses danPraktik edisi 4 Volume 2. Jakarta EGC. .2007. Basic Nursing Essentials for Practice. St. Louis. Missouri Mosby Elsevier. Primanda, Y. 2009. Pengaruh ekstrak valerian terhadap waktu tidurmencit BALB/C. Laporan Akhir Penelitian Karya Tulis Ilmiah. Semarang Fakultas Kodokteran Universitas Diponegoro. Puspitasari, R. 2013. Gangguan Tidur Ternyata Lebih Banyak Dialami Wanita. Diperoleh tanggal 18 Juli 2015, dari Sagala, V. 2011. Kualitas tidur dan faktor-faktor gangguan tidur pada penderita hipertensi di wilayah kerja puskesmas medan johor. Skripsi. Medan Sudoyo, Setiyohadi, Alwi, Simadibrata, & Setiati. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta InternaPublishing. Syamsumin, D, K. 2009. Faktor-faktor risiko yang berkaitan dengan prevalensi kurang tidur kronis pada mahasiswa di daerah istimewa yogyakarta. Jurnal Kesehatan Surya Medika Yogyakarta. Szalavitz, M. 2013. Sleeping It OfHow Alcohol Affects Sleep Quality. Diperoleh tanggal 3 Juli 2015, dari Tandra, H. 2007. Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang DIABETES Panduan LengkapMengenal dan Mengatasi Diabetes dengan Cepat dan Mudah. Jakarta Gramedia Pustaka Utama. Trisnawati dan Setyorogo. 2013. Faktor risiko kejadian diabetes melitus tipe II di puskesmas kecamatan cengkareng Jakarta Barat tahun 2012. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5 1; Jan 2013. Wavy, W. 2008. The Relationship between time management, perceived stress, sleep quality and academic performance among university students. Diperoleh tanggal 29 Oktober 2014, dari Wicaksono, D., W. 2014. Analisis faktor dominan yang berhubungan dengan kualitas tidur pada mahasiswa fakultas keperawatan universitas airlangga. Diperoleh tanggal 18 Oktober 2014, dari Zahtamal, Candra, F.,Suyanto dan Restuastuti, T. 2007. Faktor-faktor risiko pasien diabetes melitus. Berita Kedokteran Masyarakat Vol. 23, Zee, & Naylor, E. 2014. Sleep disorders in diabetes. Current Perspectives
kesimpulan dan saran diabetes melitus